Memijahkan Ikan Manfish (Angelfish)

Memijahkan Ikan Manfish (Angelfish)

  • July 16, 2019

Memijahkan Ikan Manfish (Angelfish)

Memijahkan Ikan Manfish (Angelfish)

Bentuk tubuhnya memang indah

Saat bergerak nampak gemulai dengan warna kulit yang menawan. Dengan semua daya pikatnya, tak heran bila si Bidadari banyak diincar masyarakat, untuk dinikmati keelokannya dalam akuarium. Hampir dapat dipastikan bila kita sudah mengenalnya, langsung akan jatuh cinta. Kata sebagian orang, si Bidadari ini sulit dikawinkan. Namun bila kita pintar merayu, niscaya dengan senang hati si Bidadari akan melakukan perkawinan.

Yang dimaksud dengan si Bidadari disini adalah salah satu jenis ikan hias air tawar. Namanya Ptereophyllum scalare, masyarakat umum di luar negeri (berbahasa Inggris) memanggilnya dengan nama “Angel fish”.

Ikan Bidadari/Maanvis/Angelfish

yang layak dikawinkan dan dicalonkan sebagai pengantin, sebaiknya yang sudah berumur lebih dari 6 bulan, panjang tubuhnya +/- 7,5 cm untuk jantan, dan +/- 5 cm untuk si betina. tentunya calon – calon pengantin tersebut harus sehat walafiat.

Untuk membedakan calon pengantin jantan dan betina, dapat dilihat dari ciri – ciri luarnya saja. Si jantan memiliki ukuran tubuh relatif lebih besar, dibanding si betina, meskipun dalam umur yang sama. Bagian perut si jantan, terlihat nampak pipih dan ramping. sedangkan si betina pada perutnya nampak besar dan menonjol.

Selain ciri – ciri diatas

dapat pula dibedakan dengan melihat bagian depan kepalanya. Pada jantan, dari bagian mulut sampai sirip punggung bagian depannya, terlihat berbentuk cembung (menonjol). Sedangkan pada si betina, terlihat membentuk garis lurus/sedikit tirus. Dan juga pada bagian kepala si jantan terlihat berukuran lebih besar, dibanding si betina.

Jika membedakan jenis kelamin calon kedua induk tersebut, masih juga sulit dilakukan, dapat ditempuh cara lain yang lebih praktis dan mudah diterapkan. Kita ambil beberapa calon induk ikan Bidadari, ke dalam satu wadah  berukuran 2 X 2 m2, dan ketinggian air sekitar 30 cm. Dengan cara ini, diharapkan calon – calon induk tersebut akan memilih pasangannya masing – masing. Proses lirik – lirikan dan senggol – menyenggol akan berlangsung pada malam hari yang temaram.

Ikan yang telah menemukan pasangannya

akan memisahkan diri dari kelompoknya untuk mengadakan “pembicaraan” yang lebih intim dalam rangka rencana pesta perkawinannya. Calon pengantin yang telah berpasangan ini, selanjutnya diangkat ke tempat lain untuk dikawinkan. Pasangan ikan tersebut sudah dapat dipastikan terdiri dari jantan dan betina.

Agar pesta perkawinan dapat berhasil dan berlangsung semeriah mungkin, maka perlu disiapkan pelaminan perkawinan berupa akuarium, bak atau paso, yang diisi air yang telah diendapkan setinggi 30 – 40 cm.

Untuk melekatkan telur hasil perkawinannya, disediakan bahan (subtrat) berupa daun pisang, seng plastik, kaca, keramik, atau potongan pralon berukuran diameter 4 – 5 inci (tingginya 15 – 20 cm), atau juga dapat dibelah menjadi 2 bagian (diletakkan terlentang/digantung di samping akuarium dengan kawat).

Sebelum acara perkawinan dimulai, calon pengantin jantan biasanya mengontrol (kalau – kalau ada kekurangan) media penempel telur, dan membersihkannya dengan mulutnya. Bila media tersebut dianggap sesuai, aman dan bersih, maka calon pengantin jantan mulai mengajak calon pengantin betina untuk saling bercumbu rayu.

Bila cumbu rayu telah mencapai puncaknya, maka acara puncak perkawinan pun di mulai. Pengantin betina mengeluarkan telurnya di sekitar media penempel telur, untuk selanjutnya telur tersebut dibuahi pengantin jantan. Telur yang telah dibuahi akan menempel pada bahan yang telah dipersiapkan.

Hasil perkawinan yang berupa telur dapat segera ditetaskan. Untuk menetaskan telur si Bidadari ini, dapat dilakukan dengan 2 cara. Cara yang pertama, bahan yang telah ditempelkan telur, diangkat untuk dipindahkan ke dalam akuarium lain yang berfungsi untuk menetaskan telur (usahakan media dan telur senantiasa terendam atau basah oleh air). Untuk itu dapat digunakan wadah baskom. Cara kedua, telur yang akan ditetaskan dibiarkan tetap berada di dalam akuarium ikan pasangan tersebut. Untuk cara ini pasangan pengantin (induk ikan) dipindahkan terlebih dahulu ke bak atau akuarium pemeliaharaan induk.

Telur – telur yang akan ditetaskan, ada baiknya direndam sebentar dengan antibiotik, atau diteteskan obat anti jamur ke dalam akuarium penetasan untuk mencegah serangan jamur. Bila tidak ada aral melintang, 2 – 3 hari telur – telur tersebut akan menetas.

Anak – anak ikan Bidadari ini tidak perlu diberi pakan, karena masih mempunyai cadangan makanan diperutnya berupa yolksac. Baru setelah mulai belajar berenang, kira – kira 3 – 4 hari (dari telur tersebut menetas), diberi makanan berupa kutu air saring atau artemia. Kira – kira 5 – 7 hari setelah pemberian kutu air saring, kemudian diberikan kutu air tanpa disaring. Dan selanjutnya selama 1 (satu) minggu kemudian anak ikan tersebut bisa diberikan cacing sutera (tubifex).

Saat benih mulai mengkonsumsi cacing rambut, sudah saatnya dilakukan penjarangan agar populasi benih tersebut tidak terlalu padat. Pada umur 1,5 bulan, pada kolam/bak semen ukuran 1,5 X 2 m2, tinggi air 15 – 20 cm, dapat ditebar benih ikan Bidadari sebanyak 1.000 ekor.

Penjarangan berikutnya dilakukan setiap 2 minggu, dengan membagi 2, sehingga pada akhirnya setiap bak (akuarium) berisi 100 ekor ikan bidadari. Pembersihan kotoran dilakukan setiap 2 hari dengan sistem siphon. Air juga perlu diganti setiap 2 hari dengan menambah air sebagaimana semula.

Perawatan yang cermat dan teliti, akan menghasilkan ikan – ikan Bidadari yang sehat dan anggun. Pada umur 3 bulan, ikan – ikan Bidadari sudah layak dipasarkan dan tentunya juga banyak peminatnya.