Krisan Bunga Potong Dan Penjelasannya

Krisan Bunga Potong Dan Penjelasannya

  • August 1, 2019

Krisan Bunga Potong Dan Penjelasannya

Krisan Bunga Potong Dan Penjelasannya

Budidaya krisan

Di Indonesia, budidaya krisan umumnya dilakukan di dalam rumah lindung yang dapat berupa rumah kaca atau rumah plastik.
Rumah lindung ini berfungsi untuk memberikan kondisi lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman krisan yang optimal.
Modifikasi lingkungan tumbuh pun dapat dilakukan melalui penerapan teknik budidaya yang sesuai hingga memberikan iklim mikro yang optimal untuk pertumbuhan tanaman dan mengurangi pengaruh negatif lingkungan seperti intensitas cahaya matahari yang tinggi, terpaan air hujan langsung dan amplitudo suhu harian yang tinggi serta serangan serangga hama dan patogen.

Di dalam rumah lindung

tanaman krisan ditanam pada bedengan dengan jarak tanam  tertentu.
Menurut International Chrysanthemum Society, tanaman krisan tumbuh baik di tanah bertekstur liat berpasir, dengan kerapatan jenis 0,2 – 0,8 g/cm3 (berat kering), total porositas 50 – 75 %, kandungan air 50 – 70 %, kandungan udara dalam pori 10 – 20 %, kandungan garam terlarut 1 – 1,25 dS/m2 dan kisaran pH sekitar 5,5 – 6,5. Kondisi ini dapat dicapai dengan memodifikasi media tumbuh dalam bedengan.

Krisan berasal dari daerah subtropis

sehingga suhu yang terlalu tinggi merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman. Krisan dapat tumbuh pada kisaran suhu harian antara 17 sampai 30 derajat celcius. Pada fase vegetatif, kisaran suhu harian 22 sampai 28 derajat celcius pada siang hari dan tidak melebihi 26 derajat celcius pada malam hari dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal krisan (Khattak dan Pearson, 1997).
Suhu harian ideal pada fase generatif adalah 16 sampai 18 derajat celcius (Wilkins et. al., 1990).  Menurut Maaswinkel dan Sulyo (2004) pada suhu di atas 25 derajat celcius  proses inisiasi bunga akan terhambat dan menyebabkan pembentukan bakal bunga juga terlambat. Suhu yang terlalu tinggi juga mengakibatkan bunga yang dihasilkan cenderung berwarna kusam, pucat dan memudar.
Berdasarkan tanggap tanaman terhadap panjang hari, krisan tergolong tanaman berhari pendek fakultatif.  Batas kritis panjang hari (Critical Daylenght-CDL) krisan sekitar 13,5 – 16 jam tergantung genotipe (Langton, 1987), krisan akan tetap tumbuh vegetatif bila panjang hari yang diterimanya lebih dari batas kritisnya dan akan terinduksi untuk masuk ke fase generatif (inisiasi bunga) bilamana panjang hari yang diterimanya kurang dari batas kritisnya.
Mendasarkan pada sifat sensitif krisan terhadap panjang hari, modifikasi lingkungan berupa penambahan cahaya dengan menggunakan lampu pada malam hari perlu dilakukan pada budidaya krisan potong, untuk memperoleh tinggi tanaman yang diharapkan (fase vegetatif) sebelum berbunga.
Selain suhu dan panjang hari, kualitas cahaya juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman krisan.