KOMERSIALISASI SENI PAGELARAN WAYANG KULIT

  • September 21, 2019

KOMERSIALISASI SENI PAGELARAN WAYANG KULIT

KOMERSIALISASI SENI PAGELARAN WAYANG KULIT
Bangsa Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa memiliki kenekaragaman kekayaan khasanah kebudayaan baik tarian, maupun kesenian daerah. Di antaranya adalah budaya kesenian Ludruk, Ketoprak, Tari – tarian seperti Tari Remo dan Tari Kuda Lumping serta Wayang Kulit dan lain – lain.

Seni pertunjukan wayang kulit Jawa merupakan salah satu kesenian tradisional yang sarat akan filosofi dan kebijaksanaan. Demikian pula dengan Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa dan kebudayaan yang beranekaragam dan berbeda satu dengan yang lainnya, namun semuanya turut memperkaya khsanah kebudayaan ditanah air ini. Masyarakat Jawa yang telah mendapat pengaruh dari budaya luar sebagai dampak arus perkembangan jaman, sebagian besar mulai melupakan makna pagelaran wayang kulit, oleh karena itu perlu diadakan penelitian mengenai masalah pergeseran makna ruang pertunjukan wayang kulit Jawa sebagai usaha untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat.

Keterkaitan pagelaran wayang kulit dengan perubahan fisik ruang dan pergeseran nilai serta makna yang terjadi pada obyek studi terkait, merupakan pokok permasalahan guna mencapai tujuan penelitian yang mengamati pergeseran makna ruang dalam bangunan tradisional Jawa Joglo dan gedung pertunjukan, dikaitkan dengan pementasan wayang kulit Jawa.
Pertunjukan wayang kulit disamping merupakan sarana hiburan juga merupakan salah satu bagian dari upacara-upacara adat seperti: bersih desa, ngruwat dan lain-lain. Untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit secara lengkap dibutuhkan kurang lebih sebanyak 18 orang pendukung. Satu orang sebagai dalang, 2 orang sebagai waranggana, dan 15 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara. Rata-rata pertunjukan dalam satu malam adalah 7 sampai 8 jam, mulai dari jam 21.00 sampai jam 05.00 pagi. Bila dilakukan pada siang hari pertunjukan biasanya dimulai dari jam 09.00 sampai dengan jam 16.00. Tempat pertunjukan wayang ditata dengan menggunakan konsep pentas yang bersifat abstrak. Arena pentas terdiri dari layar berupa kain putih dan sebagai sarana tehnis di bawahnya ditaruh batang pisang untuk menancapkan wayang.
Dalam pertunjukan wayang kulit, jumlah adegan dalam satu lakon tidak dapat ditentukan. Jumlah adegan ini akan berbeda-beda berdasarkan lakon yang dipertunjukkan atau tergantung dalangnya. Sebagai pra-tontonan adalah tetabuhan yang tidak ada hubungannya dengan ceritera pokok, jadi hanya bersifat sebagai penghangat suasana saja atau pengantar untuk masuk ke pertunjukan yang sebenarnya.

Sebagai pedoman dalam menyajikan pertunjukan wayang kulit biasanya seorang dalang akan menggunakan pakem pedalangan berupa buku pedalangan. Namun ada juga dalang yang menggunakan catatan dari dalang-dalang tua yang pengetahuannya diperoleh lewat keturunan. Meskipun demikian, seorang dalang diberi kesempatan pula untuk berimprovisasi, karena pakem pedalangan tersebut sebenarnya hanya berisi inti ceritera pokok saja. Untuk lebih menghidupkan suasana dan membuat pertunjukan menjadi lebih menarik, improvisasi serta kreativitas dalang ini memegang peranan yang amat penting. Warna rias wajah pada wayang kulit mempunyai arti simbolis, akan tetapi tidak ada ketentuan umum di sini. Warna rias merah untuk wajah misalnya, sebagian besar menunjukkan sifat angkara murka, akan tetapi tokoh Setyaki yang memiliki warna rias muka merah bukanlah tokoh angkara murka. Jadi karakter wayang tidaklah ditentukan oleh warna rias muka saja, tetapi juga ditentukan oleh unsur lain, seperti misalnya bentuk (patron) wayang itu sendiri. Tokoh Arjuna, baik yang mempunyai warna muka hitam maupun kuning, adalah tetap Arjuna dengan sifat-sifatnya yang telah kita kenal. Perbedaan warna muka seperti ini hanya untuk membedakan ruang dan waktu pemunculannya.

Arjuna dengan warna muka kuning dipentaskan untuk adegan di dalam kraton, sedangkan Arjuna dengan warna muka hitam menunjukkan bahwa dia sedang dalam perjalanan. Demikian pula halnya dengan tokoh Gatotkaca, Kresna, Werkudara dan lain-lain. Perbedaan warna muka wayang ini tidak akan diketahui oleh penonton yang melihat pertunjukan dari belakang layar. Alat penerangan yang dipakai dalam pertunjukan wayang kulit dari dahulu sampai sekarang telah banyak mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan teknologi. Dalam bentuk aslinya alat penerangan yang dipakai pada pertunjukan wayang kulit adalah blencong, kemudian berkembang menjadi lampu minyak tanah (keceran), petromak, sekarang banyak yang menggunakan lampu listrik.
Belakangan ini, para dalang wayang kulit “purwa” banyak yang merasa resah karena frekwensi pementasan mereka menurun. Dari ketika zaman orde baru yang cukup laris; beberapa ditengarai dengan pesanan dari beberapa instansi pemerintah yang cukup mampu menyisihkan dananya untuk mempergelarkan pementasan wayang-kulit, dengan beberapa pesan titipan yang harus disampaikan oleh para dalang itu.
Pada zaman sebelum orde baru, di banyak desa-desa para petani masih sempat mengadakan selamatan setelah panen dengan menggelar juga wayang-kulit. Banyak dalang-dalang bertaraf lokal yang berkesempatan meningkatkan frekwensi pementasan mereka. Pada masa itu, apa yang disebut prestise belum seperti orang sekarang menyikapinya.
Kebijakan para dalang pada masa itu pun tidak seperti sekarang. Para dalang pada jaman dulu itu, tidak menggunakan manajemen yang sekarang. Dalam hal mencari rejeki, dalang jaman dulu itu belum transaksional seperti sekarang. Pementasan adalah sebuah misi penyampaian pesan moral yang harus disampaikan kepada masyarakat luas. Urusan rejeki lebih pada sebuah kompensasional.
Sedangkan pada masa sekarang, para dalang sudah mengacu pada manajemen rejeki transaksional a’la barat. Lebih berhitung angka rupiah. Pemanggungan lebih menjadi seperti gaya modern; ada event organizer dan semacamnya.
Peralatan panggung cenderung lebih gebyar dan cenderung seperti panggung hiburan kebanyakan. Panggung berukuran lebih besar dan hampir tak mungkin untuk sebuah luas halaman; ukuran seluas lebih kurang 8 X 12 Meter hampir tak mungkin meski di halaman kelurahan sekalipun.
Tentang biaya, sudah pasti terlalu berat untuk kondisi masyarakat sekarang; yang juga sudah mengacu pola pikir yang ekonomis, di mana orang-orang di pedesaan pun lebih memilih menggunakan uangnya untuk biaya hidup dan biaya-biaya kebutuhan yang lain; seperti: lebih memilih untuk biaya sekolah anak-anaknya daripada untuk sebuah pergelaran kesenian yang begitu mahal. Karena untuk sekali mementaskan pagelaran Wayang Kulit dalam semalam harus mengeluarkan biaya minimal dua puluh lima juta rupiah sampai seratus dua puluh lima juta rupiah (Rp. 25 – 125 Juta).