Kesetaraan bagi Penyandang Disabilitas lewat Teknologi

  • April 10, 2020

Kesetaraan bagi Penyandang Disabilitas lewat Teknologi

Kesetaraan bagi Penyandang Disabilitas lewat Teknologi

DI hadapan layar komputer yang menyala, beberapa orang tampak sibuk

mengetik dan menekan kursor di papan tik. Headset menutupi telinga mereka. Kesibukan itu pun menjadi hening, hanya menyisakan suara papan tik yang ditekan sesekali. Sepintas tidak ada yang luar biasa. Namun, mereka ialah para penyandang tunanetra yang mengikuti pelatihan komputer bicara di Rumah Internet Atmanto (Riat), Jakarta, beberapa waktu lalu. Salah satu pesertanya ialah Astri, 26, mahasiswi jurusan kesejahteraan sosial di Universitas Muhammadiyah. “Awalnya saya pikir siapa ya yang mau menerima, saya kan tunanetra. Namun, di pelatihan seperti ini bertemu teman-teman yang bernasib sama yang membuktikan kalau ada kemauan pasti bisa maju,” ujar Astri. Media Indonesia sempat menjajal perangkat lunak pembaca layar (screen reader) yang terpasang di semua komputer.

Nyatanya, itu tidaklah sederhana. Bayangkan, setiap kata dan tanda

baca hingga titik juga koma akan dibacakan perangkat lunak itu. Semuanya dibacakan komputer dalam bahasa Inggris yang cepat sehingga ketelitian dan kemampuan menyimak yang baik sangat dibutuhkan. Kami makin terkesima ketika mengetahui sebagian penyandang tunanetra pun bisa belajar coding dan programming komputer, dengan memanfaatkan pembaca layar. “Saya belajar semua dari Google, coding juga sama,” aku Dimas Muharam, 28, yang kini menjadi CEO of PT Kartunet Media Karya. Sama seperti orang-orang dengan penglihatan normal, penyandang tunanetra dan low vision bisa mempelajari banyak hal secara autodidak dengan memanfaatkan pengetahuan yang dibagikan di internet.

Tentu saja dibutuhkan bantuan pembaca layar agar informasi

di dalamnya bisa dibacakan untuk mereka. Perangkat lunak itu sudah lama tersedia dan bisa diunduh secara gratis karena dibuat open source. “Di Kartunet, kami mengajarkan penggunaan komputer khususnya untuk tunanetra, termasuk coding, ujar Dimas. Dia sendiri tidak tunanetra sejak lahir, tapi sejak lulus sekolah dasar. Membayangkan masa depan memang sempat menyulitkan baginya. Namun, beruntung dia dikenalkan keluarga kepada komunitas dan yayasan tunanetra yang mengedepankan pemberdayaan kaum disabilitas. Dengan kemahiran menggunakan komputer dan internet, banyak di antara mereka yang menjalankan usaha rintisan berbasis daring.

 

sumber :

https://gumroad.com/gurupendidikan/p/adventure-games-apk