Elemen Laporan Keuangan

  • September 3, 2019

Table of Contents

Elemen Laporan Keuangan

Elemen Laporan Keuangan

Transaksi dicatat ke akun-akun, sesuai dengan definisi elemennya. Elemen laporan keuangan dipisah menjadi 2. Elemen yang menunjukkan posisi keuangan (ada di laporan neraca), dan elemen yang menunjukkan kinerja (ada di laporan laba rugi).

Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

1. Aset

Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai entitas sebagai hasil dari transaksi di masa lalu, dan memiliki manfaat ekonomik di masa depan.

Dari definisi ini dapat ditarik beberapa poin penting elemen aset:

  • Sumber daya ekonomi: Artinya, segala sumber daya ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh entitas merupakan aset. Sumber daya ini tidak hanya yang berwujud namun juga takberwujud. Contohnya:
      • Berwujud: Gedung, Kas, Persediaan, Bahan Habis Pakai, Investasi (jika entitas membeli surat2 berharga/aset keuangan).
      • Takberwujud: Lisensi yang dibeli, Paten yang dibeli, Hak Cipta yang dibeli, franchise yang dibeli-dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan.
      • Dikuasai entitas: Artinya, suatu aset hanya cukup dikuasai secara substansi ekonomi, tidak harus dimiliki secara hukum (berdasar prinsip substance over form – substansi ekonomi mengungguli bentuk hukum). Contoh: Perusahaan X memiliki mobil secara hukum, tetapi mobil ini disewakan ke PT Y selama umur ekonomiknya (mobil depresiasi 5 tahun, disewa 4 tahun). Jadi, yang mencatat aset (aset sewa) adalah PT.Y.
    • Sebagai hasil dari transaksi di masa lalu: Aset dikuasai entitas karena berasal dari transaksi di masa lalu. Sebagai contoh: didapat dari pembelian (gedung, mobil, persediaan, lisensi, paten), dari penjualan (kas, piutang), didapat dari transaksi pemberian (hibah).
    • Memiliki manfaat ekonomik di masa depan: Manfaat ekonomik ini artinya dapat menghasilkan aliran masuk kas di masa depan (baik langsung maupun tak langsung). Contoh: piutang (nanti kalau sudah dibayar akan menghasilkan kas), gedung (jika digunakan untuk kegiatan administratif atau operasi akan menghasilkan aliran masuk kas). Kas (jika dimanfaatkan untuk membeli persediaan atau hal-hal lain, dapat menghasilkan aliran masuk kas secara tidak langsung)

Pada umumnya di Indonesia, aset disajikan di Laporan Posisi Keuangan berdasar urutan kelancarannya. Walaupun hal ini bukan merupakan aturan yang wajib. Kelancaran ini dilihat dari seberapa mudah aset dikonversi menjadi kas/setara kas. Aset lancar adalah aset yang dikuasai entitas sampai satu periode pelaporan (1 tahun kurang), contoh: kas (perputaran uang sangat cepat, bisa jadi harian), piutang jangka pendek (piutang yang jangka pelunasannya sampai 1 tahun), persediaan (perputaran persediaan barang dagangan juga cepat). Aset tidak lancar adalah aset yang dikuasai entitas sampai lebih dari satu periode pelaporan (lebih dari satu tahun). Aset tidak lancar dibedakan menjadi berwujud dan takberwujud. Berwujud contohnya gedung (dikuasai lebih dari satu tahun), mobil. Takberwujud contohnya lisensi, hak cipta, paten.

 

2. Liabilitas

Liabilitas adalah kewajiban masa kini entitas yang muncul dari kejadian di masa lalu yang akan mengakibatkan aliran keluar manfaat ekonomik di masa depan.

Dari definisi ini dapat ditarik beberapa poin penting elemen liabilitas yaitu:

  • Kewajiban masa kini: Artinya, liabilitas itu merupakan kewajiban yang ada saat ini, untuk dilunasi di masa mendatang (pada saatnya, atau pada saat jatuh temponya). Contoh: utang usaha (sekarang kita punya kewajiban untuk melunasinya di masa depan).
  • Muncul dari kejadian di masa lalu: artinya, kewajiban ini muncul karena kejadian transaksi di masa lalu. Misalnya, membeli mobil kredit (berarti sekarang kita punya utang untuk melunasi pembelian mobil).
  • Mengakibatkan aliran keluar manfaat ekonomik di masa depan: artinya, kewajiban ini harus dilunasi di masa mendatang, menggunakan sumber daya ekonomik yang dimiliki. Misalnya, pelunasan kredit mobil menggunakan kas, pelunasan utang bank dengan penyerahan gedung (misalnya tidak punya uang).
    • Bisa jadi, pada saat pelunasan, entitas tidak memiliki cukup dana atau aset lain yang bisa digunakan untuk melunasi. Dalam hal ini, entitas bisa melakukan penukaran kewajiban dengan ekuitas. Caranya dengan mengkonversi utang menjadi saham. (tadinya utang ke kreditor, diubah jadi utang ke pemilik). Contoh ini terjadi pada perusahaan aviasi Mandala tahun 2011.

3. Ekuitas

Ekuitas adalah hak residual pemilik atas aset entitas (atau disebut aset bersih). Penjelasannya melalui persamaan akuntansi: Aset = Liabilitas + Ekuitas. Liabilitas dipindah ke ruas kiri, maka Aset – Liabilitas = Ekuitas.

Aset yang sudah dikurangi dengan kewajiban-kewajiban ke kreditor menghasilkan aset bersih. Ibaratnya, kewajiban ke kreditor dilunasi dengan aset, sisanya adalah aset bersihnya. Aset bersih ini = ekuitas.

Dalam persamaan akuntansi, terlihat bahwa ekuitas yang merupakan hak pemilik atas aset ini urutannya setelah liabilitas (aset = liabilitas + ekuitas). Artinya, hak pemilik atas aset ini harus setelah dikurangi pengembalian ke kreditor. Sehingga ekuitas adalah hak residual pemilik atas aset.

Dari sisi perusahaan, terdapat perbedaan antara kewajiban ke kreditor (liabilitas), dan kewajiban ke pemilik (ekuitas). Kewajiban ke kreditor, pokok pinjamannya akan dilunasi. Sehingga, pada saat pelunasan utang akan habis. Sedangkan kewajiban ke pemilik, pokok pinjamannya (modal) tidak akan hilang, karena setoran pinjaman dari pemilik ini menunjukkan porsi kepemilikan. Pemilik meminjami perusahaan yang baru berdiri dengan uangnya. Pinajaman ini adalah modal yang diserahkan pemilik. Nanti, perusahaan akan mengembalikan ke pemilik dalam bentuk pengembalian ke pemilik (untuk PT dalam bentuk dividen, untuk perusahaan perorangan dalam bentuk prive).

Ketika perusahaan mengembalikan ke pemilik, tentu saja porsi setoran pemilik dalam ekuitas jangan sampai berkurang. Misalnya, setor sejumlah Rp10.000, maka jika pemilik ingin mendapat hasil Rp1000, jangan sampai Rp1.000 ini mengambil dari Rp10.000 yang disetorkan. Rp1.000 ini harusnya diambilkan dari saldo laba (laba/rugi dari laporan laba rugi yang sudah masuk di ekuitas). Jadi, misalnya setor Rp10.000, perusahaan selama tahun berjalan menghasilkan saldo laba Rp5.000, maka jika pemilik ingin mendapat pengembalian dari pinjamannya, pengembalian ini diambilkan dari saldo laba Rp5.000. Konsep ini disebut sebagai konsep pemeliharaan modal (capital maintenance). Artinya, perusahaan harus dapat memelihara modal yang disetorkan oleh pemilik. Pemeliharaan modal ini dalam bentuk fisik (physical capital maintenance) atau keuangan (financial capital maintenance). Perbedaannya dari cara melihatnya.

Pemeliharaan fisik adalah, jika di awal pemilik menyetorkan ke perusahaan kemampuan untuk menghasilkan barang sejumlah 10.000, maka jika pemilik mau menikmati hasil setorannya, maka pengambilan ini jangan sampai mengurangi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang 10.000.

Pemeliharaan keuangan adalah, jika di awla pemilik menyetorkan ke perusahaan Rp10.000, maka jika pemilik mau menikmati hasil setorannya, maka pengambilan ini jangan sampai mengurangi setoran keuangan Rp10.000.

Penghitungan ekuitas dalam laporan perubahan ekuitas adalah sebagai berikut:

Ekuitas Awal (dari periode sebelumnya) + Setoran Modal Tambahan (jika pemilik menambah setoran) – Pengembalian ke Pemilik (dividen atau prive) + Saldo Laba (dari laba rugi).

Dari perhitungan dalam perubahan ekuitas, dapat disimpulkan bahwa ekuitas tidak sama dengan modal. Walaupun dalam persamaan dasar, ekuitas = modal (capital). Namun setelah entitas berkinerja, ekuitas = modal + saldo laba.

Kinerja (Laporan Laba Rugi)

Kinerja adalah kegiatan berupaya untuk mendapatkan hasil. Upaya ini disebut Beban (Expense), hasilnya adalah Pendapatan (Revenue). Selisih antara Beban dan Pendapatan adalah laba/rugi.

1. Pendapatan

Pendapatan adalah sumber pemerolehan dana yang berasal dari kegiatan usaha baik rutin (pendapatan) maupun nonrutin (untung).

Pendapatan dikelompokkan menjadi:

–          Pendapatan rutin

  • Pendapatan rutin dari kegiatan operasi (penjualan barang dagangan, pendapatan jasa)
  • Pendapatan rutin dari kegiatan nonoperasi (pendapatan bunga bank)

–          Pendapatan nonrutin

  • Untung (misalnya untung penjualan aset tetap – karena tidak setiap periode kita bisa menjual aset tetap, dll).

2.  Biaya (Expense – berdasar PSAK 1: Beban)

Biaya adalah penggunaan sumber daya yang berasal dari kegiatan usaha baik rutin (biaya) maupun nonrutin (rugi).

Biaya dikelompokkan menjadi:

–         Biaya rutin

  • Biaya rutin dari kegiatan operasi (biaya usaha, kos barang terjual/COGS)
  • Biaya rutin dari kegiatan nonoperasi (biaya administrasi, biaya asuransi, biaya gaji)

–          Biaya nonrutin

  • Rugi (misalnya rugi penjualan aset tetap – karena tidak setiap periode kita bisa menjual aset tetap, dll).