Jenis Kucing Persia

Jenis Kucing Persia

  • March 5, 2020

Jenis Kucing Persia

Jenis Kucing Persia

1. Kucing Persia Peaknose

Di antara jenis kucing Persia lainnya, jenis ujung hidung paling mahal. Ini karena ia memiliki hidung yang lebih rata, oleh karena itu lebih rata daripada jenis lainnya. Kucing ini akan terlihat menakutkan bagi sebagian orang dan bulunya tebal.

2. Kucing Persia Medium

Dibandingkan dengan kucing Persial jenis lain, medianya memiliki bentuk hidung yang berbeda. Alasannya bukan flat tapi flat, yang mungkin masih bisa diterima banyak orang. Media juga memiliki mantel yang cukup tebal dan panjang dalam tipe Persia. Ada 2 jenis rambut pada penopang, yaitu rambut panjang dan rambut pendek.

3. Kucing Persia Flatnose

Ia memiliki ciri khas pipih dan pipih serta ukuran kecil yang sejajar dengan mata, sehingga ia lucu dan menggemaskan. Bentuk telinga lebih runcing dan jarak antara kanan dan kiri cukup jauh. Lebih ideal di kaki karena tidak panjang atau pendek, dan juga terlihat seperti bogel.

4. Kucing Persia Himalaya

Jenis ini umumnya menjadi pilihan beberapa orang karena memiliki bentuk hidung yang tidak terlalu pesek dan bulu yang tebal. memiliki warna rambut coklat tua dan memiliki pola hitam hanya di telinga, hidung, ekor, jari kaki dan wajah, hanya saja, sementara bagian tubuh berwarna coklat muda atau putih.


Sumber:

https://kucingpersia.co.id/

Penyebab Kucing Muntah

Penyebab Kucing Muntah

  • February 19, 2020

Penyebab Kucing Muntah

Penyebab Kucing Muntah

Mari kita lihat lebih jauh.


1. Makanan

Makanan bisa membuat kucing muntah. Mungkin disebabkan oleh alergi seperti susu dan mungkin disebabkan oleh terlalu banyak makan jika kenyang.

2. Keracunan

Jika kucing Anda sering bebas bermain di luar, ini bisa menjadi faktor keracunan kucing Anda. Misalnya: ketika kucing mengalami dehidrasi (haus) dan Anda tidak memberinya minum, kucing akan mencari air yang tidak tahu apakah airnya bersih atau tidak. Jika diminum, dapat menyebabkan kucing muntah.

3. Makan benda asing

Benda asing bisa berupa benda plastik, mainan kucing, kertas atau yang tidak bisa dimakan. Ini dapat menyebabkan muntah pada kucing.

4. Masuknya benda asing

Ini mungkin disebabkan oleh fakta bahwa kucing dapat bernafas saat menghirup udara, angin kotor atau benda asing seperti serangga yang membuat kucing muntah karena gatal atau sakit di tenggorokan.

5. Kucing hamil

Penyebab yang mungkin timbul karena muntah adalah karena kehamilan. Ciri-ciri kucing hamil yang akan muntah sekalipun tidak semua kucing merasakannya. Karena hormon estrogen meningkat dan memberi efek setelah makan, maka akan terasa mual dan bahkan muntah.

6. Parasit

Parasit bisa membuat kucing muntah. Secara umum, parasit dapat memasuki tubuh kucing melalui makanan dan bulu kucing saat kucing berada di luar rumah.

7. Virus Panleukopenia

Virus panleucopenia menyebabkan muntah cairan kuning pada kucing dan juga diare. Virus ini dapat ditemukan dalam makanan ketika kucing makan makanan acak atau berada di luar rumah.

8. Faktor keturunan

Faktor keturunan juga dapat menyebabkan kucing muntah. Di mana ketika ibu kucing sedang hamil memiliki penyakit internal sehingga dapat ditularkan kepada anaknya yang juga memiliki penyakit yang sama.

9. Mual setelah operasi

Mungkin menjadi penyebab yang merupakan efek samping dari operasi pasca operasi.

10. Racun dan obat-obatan

Karena itu terjadi setelah mengonsumsi racun atau obat tertentu.


Sumber:

https://kucingpersia.co.id/

Mengenal Kucing Hutan Norwegia

Mengenal Kucing Hutan Norwegia

  • September 12, 2019

Mengenal Kucing Hutan Norwegia

Mengenal Kucing Hutan Norwegia

Kucing Hutan Norwegia (Norwegian Forest Cat/NFC) adalah salah satu ras kucing yang berkembang secara alami. Ras kucing ini berasal dari daerah yang bernama Norway, sehingga sering juga disebut Norway atau Skogkatt (kucing hutan). Nenek moyang kucing ini tidak diketahui secara pasti, diduga berasal dari hutan-hutan di daerah Nowegia dan Skandinavia

Kucing Norway sering muncul dalam dongeng-dongeng Norwegia. Disebutkan, Norway adalah kucing yang umum dipelihara keluarga bangsa Viking. Pada awal abad ke-16 NFC dideskripsikan sebagai kucing dengan badan besar, kaki panjang, buku ekor tebal dan mempunyai bulu pada ujung telinga seperti antena. Seperti nenek moyangnya yang mahir menangkap ikan di danai dan sungai, kucing Norway juga menyukai air. Pada beberapa cerita dongeng mereka disebut sebagai kucing peri.
NFC yang kita kenal sekarang ini merupakan hasil breeding yang nenek moyangnya telah mengalami seleksi oleh alami. Hanya kucing yang kuat dengan bulu tebal dan anti air  yang mampu bertahan di hutan Norway dengan iklim yang tidak bersahabat. Sekarang ini Kucing Norway cukup populer terutama di Skandinavia. Di Indonesia pun telah ada breeder yang mengembangbiakkan ras kucing ini.

Sesuai dengan iklim daerah asalnya, bulu kucing ini akan semakin panjang pada musim dingin dan mulai rontok pada musim semi. Kucing dewasa mempunyai bulu disekitar tengkuk dan leher yang tebal. Kucing dengan warna gelap cenderung mempunyai bulu yang lebih pendek dibandingkan dengan kucing berwana terang atau warna putih. Pola warna pun beragam seperti kucing lainnya kecuali warna-warna point seperti pada himalaya dan siam. Tidak seperti ras persia, norway tidak memerlukan banyak grooming (penyisiran).


Sumber:

https://rumahkucing.co.id/

Memijahkan Ikan Manfish (Angelfish)

Memijahkan Ikan Manfish (Angelfish)

  • July 16, 2019

Memijahkan Ikan Manfish (Angelfish)

Memijahkan Ikan Manfish (Angelfish)

Bentuk tubuhnya memang indah

Saat bergerak nampak gemulai dengan warna kulit yang menawan. Dengan semua daya pikatnya, tak heran bila si Bidadari banyak diincar masyarakat, untuk dinikmati keelokannya dalam akuarium. Hampir dapat dipastikan bila kita sudah mengenalnya, langsung akan jatuh cinta. Kata sebagian orang, si Bidadari ini sulit dikawinkan. Namun bila kita pintar merayu, niscaya dengan senang hati si Bidadari akan melakukan perkawinan.

Yang dimaksud dengan si Bidadari disini adalah salah satu jenis ikan hias air tawar. Namanya Ptereophyllum scalare, masyarakat umum di luar negeri (berbahasa Inggris) memanggilnya dengan nama “Angel fish”.

Ikan Bidadari/Maanvis/Angelfish

yang layak dikawinkan dan dicalonkan sebagai pengantin, sebaiknya yang sudah berumur lebih dari 6 bulan, panjang tubuhnya +/- 7,5 cm untuk jantan, dan +/- 5 cm untuk si betina. tentunya calon – calon pengantin tersebut harus sehat walafiat.

Untuk membedakan calon pengantin jantan dan betina, dapat dilihat dari ciri – ciri luarnya saja. Si jantan memiliki ukuran tubuh relatif lebih besar, dibanding si betina, meskipun dalam umur yang sama. Bagian perut si jantan, terlihat nampak pipih dan ramping. sedangkan si betina pada perutnya nampak besar dan menonjol.

Selain ciri – ciri diatas

dapat pula dibedakan dengan melihat bagian depan kepalanya. Pada jantan, dari bagian mulut sampai sirip punggung bagian depannya, terlihat berbentuk cembung (menonjol). Sedangkan pada si betina, terlihat membentuk garis lurus/sedikit tirus. Dan juga pada bagian kepala si jantan terlihat berukuran lebih besar, dibanding si betina.

Jika membedakan jenis kelamin calon kedua induk tersebut, masih juga sulit dilakukan, dapat ditempuh cara lain yang lebih praktis dan mudah diterapkan. Kita ambil beberapa calon induk ikan Bidadari, ke dalam satu wadah  berukuran 2 X 2 m2, dan ketinggian air sekitar 30 cm. Dengan cara ini, diharapkan calon – calon induk tersebut akan memilih pasangannya masing – masing. Proses lirik – lirikan dan senggol – menyenggol akan berlangsung pada malam hari yang temaram.

Ikan yang telah menemukan pasangannya

akan memisahkan diri dari kelompoknya untuk mengadakan “pembicaraan” yang lebih intim dalam rangka rencana pesta perkawinannya. Calon pengantin yang telah berpasangan ini, selanjutnya diangkat ke tempat lain untuk dikawinkan. Pasangan ikan tersebut sudah dapat dipastikan terdiri dari jantan dan betina.

Agar pesta perkawinan dapat berhasil dan berlangsung semeriah mungkin, maka perlu disiapkan pelaminan perkawinan berupa akuarium, bak atau paso, yang diisi air yang telah diendapkan setinggi 30 – 40 cm.

Untuk melekatkan telur hasil perkawinannya, disediakan bahan (subtrat) berupa daun pisang, seng plastik, kaca, keramik, atau potongan pralon berukuran diameter 4 – 5 inci (tingginya 15 – 20 cm), atau juga dapat dibelah menjadi 2 bagian (diletakkan terlentang/digantung di samping akuarium dengan kawat).

Sebelum acara perkawinan dimulai, calon pengantin jantan biasanya mengontrol (kalau – kalau ada kekurangan) media penempel telur, dan membersihkannya dengan mulutnya. Bila media tersebut dianggap sesuai, aman dan bersih, maka calon pengantin jantan mulai mengajak calon pengantin betina untuk saling bercumbu rayu.

Bila cumbu rayu telah mencapai puncaknya, maka acara puncak perkawinan pun di mulai. Pengantin betina mengeluarkan telurnya di sekitar media penempel telur, untuk selanjutnya telur tersebut dibuahi pengantin jantan. Telur yang telah dibuahi akan menempel pada bahan yang telah dipersiapkan.

Hasil perkawinan yang berupa telur dapat segera ditetaskan. Untuk menetaskan telur si Bidadari ini, dapat dilakukan dengan 2 cara. Cara yang pertama, bahan yang telah ditempelkan telur, diangkat untuk dipindahkan ke dalam akuarium lain yang berfungsi untuk menetaskan telur (usahakan media dan telur senantiasa terendam atau basah oleh air). Untuk itu dapat digunakan wadah baskom. Cara kedua, telur yang akan ditetaskan dibiarkan tetap berada di dalam akuarium ikan pasangan tersebut. Untuk cara ini pasangan pengantin (induk ikan) dipindahkan terlebih dahulu ke bak atau akuarium pemeliaharaan induk.

Telur – telur yang akan ditetaskan, ada baiknya direndam sebentar dengan antibiotik, atau diteteskan obat anti jamur ke dalam akuarium penetasan untuk mencegah serangan jamur. Bila tidak ada aral melintang, 2 – 3 hari telur – telur tersebut akan menetas.

Anak – anak ikan Bidadari ini tidak perlu diberi pakan, karena masih mempunyai cadangan makanan diperutnya berupa yolksac. Baru setelah mulai belajar berenang, kira – kira 3 – 4 hari (dari telur tersebut menetas), diberi makanan berupa kutu air saring atau artemia. Kira – kira 5 – 7 hari setelah pemberian kutu air saring, kemudian diberikan kutu air tanpa disaring. Dan selanjutnya selama 1 (satu) minggu kemudian anak ikan tersebut bisa diberikan cacing sutera (tubifex).

Saat benih mulai mengkonsumsi cacing rambut, sudah saatnya dilakukan penjarangan agar populasi benih tersebut tidak terlalu padat. Pada umur 1,5 bulan, pada kolam/bak semen ukuran 1,5 X 2 m2, tinggi air 15 – 20 cm, dapat ditebar benih ikan Bidadari sebanyak 1.000 ekor.

Penjarangan berikutnya dilakukan setiap 2 minggu, dengan membagi 2, sehingga pada akhirnya setiap bak (akuarium) berisi 100 ekor ikan bidadari. Pembersihan kotoran dilakukan setiap 2 hari dengan sistem siphon. Air juga perlu diganti setiap 2 hari dengan menambah air sebagaimana semula.

Perawatan yang cermat dan teliti, akan menghasilkan ikan – ikan Bidadari yang sehat dan anggun. Pada umur 3 bulan, ikan – ikan Bidadari sudah layak dipasarkan dan tentunya juga banyak peminatnya.