Teknologi Pembelajaran

  • November 9, 2019

Teknologi Pembelajaran

Teknologi Pembelajaran

A. Latar Belakang Sejarah dan Teknologi Pembelajaran

Teknologi Pembelajaran tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Teknologi Pembelajaran semula dilihat sebagai teknologi peralatan, yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan atau dengan kata lain mengajar dengan alat bantu audio-visual. Teknologi Pembelajaran merupakan gabungan dari tiga aliran yang saling berkepentingan, yaitu media dalam pendidikan, psikologi pembelajaran dan pendekatan sistem dalam pendidikan.

Adalah Edgar Dale dan James Finn merupakan dua tokoh yang berjasa dalam pengembangan Teknologi Pembelajaran modern. Edgar Dale mengemukakan tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) sebagaimana tampak dalam gambar 1 berikut ini :

Dari gambar tersebut dapat kita lihat rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, yang merentang dari yang bersifat kongkrit ke abstrak, dan tentunya memberikan implikasi tertentu terhadap pemilihan metode dan bahan pembelajaran, khususnya dalam pengembangan Teknologi Pembelajaran

Pemikiran Edgar Dale tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) ini merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dengan komunikasi audiovisual. Kerucut Pengalaman Dale telah menyatukan teori pendidikan John Dewey (salah satu tokoh aliran progresivisme) dengan gagasan – gagasan dalam bidang psikologi yang tengah populer pada masa itu.

Sedangkan, James Finn seorang mahasiswa tingkat doktoral dari Edgar Dale berjasa dalam mengusulkan bidang komunikasi audio-visual menjadi Teknologi Pembelajaran yang kemudian berkembang hingga saat ini menjadi suatu profesi tersendiri, dengan didukung oleh penelitian, teori dan teknik tersendiri. Gagasan Finn mengenai terintegrasinya sistem dan proses mampu mencakup dan memperluas gagasan Edgar Dale tentang keterkaitan antara bahan dengan proses pembelajaran.

B. Definisi Teknologi Pembelajaran

Rumusan tentang pengertian Teknologi Pembelajaran telah mengalami beberapa perubahan, sejalan dengan sejarah dan perkembangan dari teknologi pembelajaran itu sendiri. Di bawah ini dikemukakan beberapa definisi tentang Teknologi Pembelajaran yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan Teknologi Pembelajaran.

Definisi Association for Educational Communications Technology (AECT) 1963

“ Komunikasi audio-visual adalah cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama berkepentingan dengan mendesain, dan menggunakan pesan guna mengendalikan proses belajar, mencakup kegiatan : (a) mempelajari kelemahan dan kelebihan suatu pesan dalam proses belajar; (b) penstrukturan dan sistematisasi oleh orang maupun instrumen dalam lingkungan pendidikan, meliputi : perencanaan, produksi, pemilihan, manajemen dan pemanfaatan dari komponen maupun keseluruhan sistem pembelajaran. Tujuan praktisnya adalah pemanfaatan tiap metode dan medium komunikasi secara efektif untuk membantu pengembangan potensi pembelajar secara maksimal.”

Meski masih menggunakan istilah komunikasi audio-visual, definisi di atas telah menghasilkan kerangka dasar bagi pengembangan Teknologi Pembelajaran berikutnya serta dapat mendorong terjadinya peningkatan pembelajaran.

Baca Juga :

Pelayanan Konseling di Sekolah

  • November 9, 2019

Pelayanan Konseling di Sekolah

Pelayanan Konseling di Sekolah

A. Struktur Pelayanan Konseling

Pelayanan konseling di sekolah/madrasah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.

1. Pengertian Konseling

Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.

2. Paradigma, Visi, dan Misi

a. Paradigma

Paradigma konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya. Artinya, pelayanan konseling berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi pendidikan serta psikologi yang dikemas dalam kaji-terapan pelayanan konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan peserta didik.

b. Visi

Visi pelayanan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta didik berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia.

c. Misi

  • Misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa depan.
  • Misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/ madrasah, keluarga dan masyarakat.
  • Misi pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.

3. Bidang Pelayanan Konseling

  • Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.
  • Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
  • Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.
  • Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

4. Fungsi Konseling

  • Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan lingkungannya.
  • Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.
  • Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya.
  • Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan menumbuh-kembangkan berbagai potensi dan kondisi positif yang dimilikinya.
  • Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.

5Prinsip dan Asas Konseling

  • Prinsip-prinsip konseling berkenaan dengan sasaran layanan, permasalahan yang dialami peserta didik, program pelayanan, serta tujuan dan pelaksanaan pelayanan.
  • Asas-asas konseling meliputi asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, kemandirian, kekinian, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan kasus, dan tut wuri handayani.

6. Jenis Layanan Konseling

  • Orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
  • Informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
  • Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
  • Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terumata kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
  • Konseling Perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya.
  • Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.
  • Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
  • Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
  • Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.

Sumber : https://realviagraforsale-rxonline.com/

Klasifikasi Guru dan Tingkatan

  • November 9, 2019

Klasifikasi Guru dan Tingkatan

Klasifikasi Guru dan Tingkatan

Telah disyaratkan dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa guru adalah pendidik profesional dan untuk dapat memangku jabatan guru, minimal memiliki kualifikasi pendidikan D4/S1.

Namun dalam kenyataannya saat ini, kualifikasi pendidikan guru di Indonesia memang masih beragam. Dalam hal ini, Conny Semiawan (Sudarwan Danim, 2002), memilah keberadaan tenaga guru di Indonesia ke dalam tiga jenis secara hierarkis, yaitu :

  1. Guru sebagai tenaga profesional, yang berkualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya S1 (atau yang setara), memiliki wewenang penuh dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengendalian pendidikan/ pembelajaran.
  2. Guru sebagai tenaga semi profesional, yang berkualifikasi pendidikan D3 (atau yang setara) yang telah berwenang mengajar secara mandiri tetapi masih harus melakukan konsultasi dengan tenaga kependidikan yang lebih tinggi jenjang profesionalnya, baik dalam hal perencanaan pelaksanaan, penilaian dan pengendalian pendidikan/ pembelajaran.
  3. Guru sebagai tenaga paraprofesional, yang berkualifikasi pendidikan tenaga kependidikan D2 ke bawah, yang memerlukan pembinaan dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengendalian/ pembelajaran.

Sementara itu, dalam praktik pembelajaran pun tampaknya masih terjadi keragaman. Dengan mengadopsi pemikiran Prayitno (2005) tentang lima tingkatan praktik dalam konseling, di bawah ini dijelaskan secara singkat tentang lima tingkatan praktik pembelajaran, sebagai berikut:

1. Tingkat pembelajaran pragmatik.

Tingkat pembelajaran pragmatik yaitu pembelajaran yang diselenggarakan guru dengan menggunakan cara-cara yang menurut pengalaman guru pada waktu terdahulu dianggap memberikan hasil yang optimal, meskipun cara-cara tersebut sama sekali tidak berdasarkan pada teori tertentu.

2.Tingkat pembelajaran dogmatik

Pada tingkat pembelajaran dogmatik, praktik pembelajaran yang dilakukan guru telah menggunakan pendekatan berdasarkan teori tertentu, namun pendekatan tersebut dijadikan dogma untuk segenap kepentingan proses pembelajaran siswa.

3. Tingkat pembelajaran sinkretik

Pada tingkat pembelajaran sinkretik, pembelajaran yang diselenggarakan guru telah menggunakan sejumlah pendekatan pembelajaran, namun penggunaan pendekatan tersebut bercampur aduk tanpa sistematika ataupun pertimbangan yang matang. Pendekatan-pendekatan tersebut sekedar dicomot dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran tanpa memperhatikan relevansi dan ketepatannya.

4. Tingkat pembelajaran eklektik

Dalam penyelenggaraan pembelajaran eklektik, guru telah memiliki pemahaman yang mendalam tentang berbagai pendekatan pembelajaran dengan berbagai teknologinya, dan berusaha memilih serta menerapkan sebagian atau satu kesatuan pendekatan beserta teknologinya sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan belajaran siswa. Pendeketan-pendekatan tersebut tidak dicampur aduk, namun dipilah-pilah, masing-masing diplih secara cermat untuk kepentingan pembelajaran siswa. Penyelenggaraan pembelajaran eklektif tidak mengangungkan atau menjadikan suatu pendekatan pembelajaran tertentu sebagai dogma. Dengan demikian, dalam penyelenggaraan pembelajaran eklektif, guru mengetahui kapan menggunakan atau tidak menggunakan pendekatan pembelajaran tertentu.

5. Tingkat pembelajaran mempribadi

Tingkat pembelajaran yang mempribadi mempunyai ciri-ciri : (1) penguasaan yang mendalam terhadap sejumlah pendekatan pembelajaran beserta teknologinya, (2) kemampuan memilih dan menerapkan secara tepat pendekatan berserta teknologinya untuk kepentingan pembelajaran siswa, dan (3) pemberian warna pribadi yang khas sehingga tercipta praktik pembelajaran yang benar-benar ilmiah, efektif, produktif, dan unik.

Sumber : https://pharmacygig.com/

Gaet Hotel Berbintang demi Siswa Berpengalaman

  • November 7, 2019

Gaet Hotel Berbintang demi Siswa Berpengalaman

Gaet Hotel Berbintang demi Siswa Berpengalaman

SMK Citra Pariwisata di Jalan Cibeureum Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan

, telah mempersiapkan siswa­nya mengikuti proses belajar yang baik. Terlebih, tenaga pengajar di bidangnya bisa diandalkan di bidang perhote­lan dan pariwisata.

KEPALA SMK Citra Pariwisata Kota Bogor Sutisna menjelaskan, saat ini pi­haknya terus berupaya menggali ilmu untuk mencetak siswa andal di bidang perhotelan serta menyediakan sarana untuk mendidik dan melatih siswa.

”Sekolah kami telah berkomitmen mempersiapkan sumber daya manusia andal

, terampil, berkarakter baik, man­diri, berwawasan luas dan memiliki jiwa kewirausahaan,” ujar Sutisna saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Untuk mencapai tujuan itu, saat ini SMK Citra Pariwisata terus menggalang kerja sama dengan berbagai hotel ber­bintang, baik dalam maupun luar ne­geri, untuk bisa menerima peserta didiknya saat pelatihan kerja (magang).

“Kami ingin para siswa saat praktik lapang bisa mempraktikkan ilmu yang didapat di sekolah

. Bahkan menambah wawasan siswa dalam dunia perhotelan,” terangnya. Ke depan, ia berharap peserta didik lulu­san SMK Citra Pariwisata dapat bekerja profesional dan berwawasan luas serta berakhlak mulia.

 

Baca Juga :

Kementerian Pendidikan bakal Sambangi SMPN 7 Kota Bogor

  • November 7, 2019

Kementerian Pendidikan bakal Sambangi SMPN 7 Kota Bogor

Kementerian Pendidikan bakal Sambangi SMPN 7 Kota Bogor

SMPN 7 Kota Bogor terpilih sebagai tempat pem­buatan video pembelajaran IPS dan contoh

sekolah model oleh Pusat Ku­rikulum dan Pusat Teknologi dan Komu­nikasi Kementrian Pendidikan Nasio­nal.

Wakil Kepala SMPN 7 Bidang Humas Rika Dewi berharap terpilihnya sekolah ini bisa menginspirasi

sekolah lain dalam mengembangkan materi pendidikan di sekolah masing–masing. ”Untuk pem­buatan video ini, kami melibatkan 32 siswa dalam satu kelas dengan dibantu guru lainnya,” ujarnya.

Rika mengungkapkan, pembuatan vi­deo ini bertujuan agar para guru bisa memahami model pembelajaran

kuri­kulum 2013 yang mengintegrasikan nilai karakter, kecakapan abad XXI dan literisasi dalam pembelajaran IPS SMP. Sementara model pembelajaran yang digunakan berbasis zamasalah (problem based learning) pada materi kondisi geografis Indonesia dengan submateri kondisi alam pedesaan.

”Langkah model ini adalah pengorien­tasi masalah, pengorganisasian belajar dan penyelidikan individual serta kelom­pok,” pungkasnya

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/8AZL/the-origins-of-javanese-in-history

Berkreasi dengan Kertas Koran

  • November 7, 2019

Berkreasi dengan Kertas Koran

Berkreasi dengan Kertas Koran

Kepala SDN Cilendek Timur 2 Rini Widyaningsih mengajarkan para siswa berkreasi

dengan memakai bahan kertas koran. Di tangan para siswa, koran bekas tersebut menjadi sesuatu yang sangat berharga, seperti tempat pinsil, bros dan lainnya.

”Kami ajarkan mereka berkreasi dengan koran bekas dulu. Selanjutnya akan berkreasi

dengan yang lain,” ujar Kepala SDN Cilendek Timur 2 Rini Widyaningsih saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Hasil kreasi mereka, lanjut Rini, bisa dipakai mereka sendiri atau dijual di koperasi sekolah yang hasilnya akan diberikan kepada anak-anak tersebut. ”Kreasi mereka sudah pernah dipamerkan pada acara Ngariung Mumpulung Bina Karya di salah satu mal. Kreasi mereka pun laris manis,” bebernya.

Rini berharap anak didiknya jangan berhenti berkreasi dengan mengolah barang yang tidak terpakai

menjadi sesuatu yang mempunyai nilai jual. Dengan terus berkreasi, maka kesempatan maju akan terbuka lebar.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/pOln/the-story-of-the-prophet-muhammad-saw-received-the-first-revelation

CYBERLAW DI BEBERAPA NEGARA

  • November 1, 2019

CYBERLAW DI BEBERAPA NEGARA

PANDANGAN CYBERLAW DI BEBERAPA NEGARA
Pada dasarnya, Internet memiliki karakteristik dimana tidak ada batas-batas teritorial, karena sepenuhnya beroperasi secara virtual, sehingga aktivitas-aktivitas baru tidak sepenuhnya dapat diatur oleh hukum yang berlaku saat ini. Oleh karena itu diperlukan peraturan-peraturan dan regulasi yang mengatur mengenai aktivitas yang melibatkan Internet.
Cyberlaw sendiri memiliki beberapa pengertian yaitu Hukum Sistem Informasi, Hukum Informasi, dan Hukum Telematika. Akan tetapi dari semua pengertian tersebut di dalamnya memuat atau membicarakan mengenai aspek-aspek hukum yang berkaitan dengan aktivitas manusia di Internet yang membentuk suatu aturan hukum yang dapat merespon persoalan-persoalan hukum yang muncul akibat adanya pemanfaatan Internet terutama disebabkan oleh sistem hukum tradisional yang tidak sepenuhnya mampu merespon persoalan-persoalan tersebut dan karakteristik dari Internet itu sendiri. Penerapan Cyberlaw setiap negarapun berbeda, Oleh karena itu Saya berikan Contoh penerapan Cyberlaw di 3 negara yang berbeda, untuk memberikan gambaran perbedaan yang terjadi pada penerapan tersebut :
  • Indonesia
    Sampai saat ini di kalangan peminat dan pemerhati masalah hukum yang berkaitan dengan Internet di Indonesia masih menggunakan istilah “cyberlaw”. Dimana hukum yang sudah mapan seperti kedaulatan dan yuridiksi tidak mampu lagi merespon persoalan-persoalan dan karakteristik dari Internet dimana para pelaku yang terlibat dalam pemanfaatan Internet tidak lagi tunduk pada batasan kewarganegaraan dan kedaulatan suatu negara.
    Oleh karena itu perlu adanya pembentukan satu regulasi yang cukup akomodatif terhadap fenomena-fenomena baru yang muncul akibat pemanfaatan Internet. Aturan hukum yang akan dibentuk harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hukum para pihak yang terlibat dalam traksaksi-transaksi lewat Internet.
  • Malaysia
    Lima cyberlaws telah berlaku pada tahun 1997 tercatat di kronologis ketertiban. Digital Signature Act 1997 merupakan Cyberlaw pertama yang disahkan oleh parlemen Malaysia. Tujuan Cyberlaw ini, adalah untuk memungkinkan perusahaan dan konsumen untuk menggunakan tanda tangan elektronik (bukan tanda tangan tulisan tangan) dalam hukum dan transaksi bisnis. Computer Crimes Act 1997 menyediakan penegakan hukum dengan kerangka hukum yang mencakup akses yang tidak sah dan penggunaan komputer dan informasi dan menyatakan berbagai hukuman untuk pelanggaran yang berbeda komitmen. Para Cyberlaw berikutnya yang akan berlaku adalah Telemedicine Act 1997. Cyberlaw ini praktisi medis untuk memberdayakan memberikan pelayanan medis / konsultasi dari lokasi jauh melalui menggunakan fasilitas komunikasi elektronik seperti konferensi video. Berikut pada adalah Undang-Undang Komunikasi dan Multimedia 1998 yang mengatur konvergensi komunikasi dan industri multimedia dan untuk mendukung kebijakan nasional ditetapkan untuk tujuan komunikasi dan multimedia industri. The Malaysia Komunikasi dan Undang-Undang Komisi Multimedia 1998 kemudian disahkan oleh parlemen untuk membentuk Malaysia Komisi Komunikasi dan Multimedia yang merupakan peraturan dan badan pengawas untuk mengawasi pembangunan dan hal-hal terkait dengan komunikasi dan industri multimedia.
    Departemen Energi, Komunikasi dan Multimedia sedang dalam proses penyusunan baru undang-undang tentang Perlindungan Data Pribadi untuk mengatur pengumpulan, kepemilikan, pengolahan dan penggunaan data pribadi oleh organisasi apapun untuk memberikan perlindungan untuk data pribadi seseorang dan dengan demikian melindungi hak-hak privasinya. Hal ini didasarkan pada sembilan prinsip-prinsip perlindungan data yaitu :
    1.Cara pengumpulan data pribadi
    2.Tujuan pengumpulan data pribadi
    3.Penggunaan data pribadi
    4.Pengungkapan data pribadi
    5.Akurasi dari data pribadi
    6.Jangka waktu penyimpanan data pribadi
    7.Akses ke dan koreksi data pribadi
    8.Keamanan data pribadi
    9.Informasi yang tersedia secara umum.
  • Amerika
    Pada negara ini, Cyberlaw yang mengatur transaksi elektronik dikenal dengan Uniform Electronic Transaction Act (UETA). UETA adalah salah satu dari beberapa Peraturan Perundang-undangan Amerika Serikat yang diusulkan oleh National Conference of Commissioners on Uniform State Laws (NCCUSL). Sejak itu 47 negara bagian, Kolombia, Puerto Rico, dan Pulau Virgin US telah mengadopsinya ke dalam hukum mereka sendiri. Tujuan menyeluruhnya adalah untuk membawa ke jalur hukum negara bagian yag berbeda atas bidang-bidang seperti retensi dokumen kertas, dan keabsahan tanda tangan elektronik sehingga mendukung keabsahan kontrak elektronik sebagai media perjanjian yang layak.

Baca Juga :

PANDANGAN CYBERLAW DI BEBERAPA NEGARA

  • November 1, 2019

PANDANGAN CYBERLAW DI BEBERAPA NEGARA

PANDANGAN CYBERLAW DI BEBERAPA NEGARA

IT Audit

IT Audit biasa digunakan untuk menilai ataupun menguji suatu system atau infrastruktur dari sebuah teknologi informasi. Prosedure yang biasa digunakan untuk Mengumpulkan dan mengevaluasi suatu bukti, sehingga diketahui pengoperasian, pengembangan, sertapengorganisasiannya. Contoh dari procedure IT yaitu, External IT Consultant yang menghasilkan output berupa Rekrutmen staff, teknologi baru dan kompleksitasnya Outsourcing yang tepat dan Benchmark / Best-Practices. Selain prosedur, IT Audit juga membutuhkan lembar kerja sebagai berikut :

  • Stakeholders:
  1. Internal IT Deparment
  2. External IT Consultant
  3. Board of Commision
  4. Management
  5. Internal IT Auditor
  6. External IT Auditor
  • Kualifikasi Auditor:
  1. Certified Information Systems Auditor (CISA)
  2. Certified Internal Auditor (CIA)
  3. Certified Information Systems Security Professional (CISSP)
  4. dll
  • Output Internal IT:
  1. Solusi teknologi meningkat, menyeluruh & mendalam
  2. Fokus kepada global, menuju ke standard yang diakui
  • Output External IT:
  1. Rekrutmen staff, teknologi baru dan kompleksitasnya
  2. Outsourcing yang tepat
  3. Benchmark / Best-Practices
  • Output Internal Audit & Business:
  1. Menjamin keseluruhan audit
  2. Budget & Alokasi sumber daya
  3. Reporting

Pemilihan Open Source

  • November 1, 2019

Pemilihan Open Source

 

Pemilihan Open Source

Open Source adalah sistem pengembangan software ataupun bahasa pemprograman yang tidak berlisensi dan tidak dikoordinasi oleh suatu orang atau lembaga pusat. Tetapi oleh para pelaku yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source-code) yang tersebar dan tersedia secara bebas atau gratis boleh digunakan oleh siapa saja asalkan disertai dengan kode-kode program yang dapat dibuka dan dipelajari alur kerjanya. Oleh karena itu diperbolehkan untuk bebas mengubah dan dikembangkan guna memperbaiki kelemahan- kelemahan yang terjadi. Salah satu contoh Open source saat ini yaitu sistem operasi LINUX. PHP, MySQL, Linux, Apache (web server), perl, fetchmail. Sistem Operasi Open source memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, sbb :

Kelebihan :

  • Software-softwarenya bisa didownload gratis beserta source code-nya, sehingga programnya bisa digunakan dan dikembangkan dengan leluasa
  • virus yang menyerang lebih sedikit dibandingkan dengan Windows karena program ini didukung oleh komunitas pengguna yang bisa digunakan untuk ajang share permasalahan penggunaan program open source
  • meningkatkan kehandalan dan keamanan suatu softwarekarena akan banyak pihak yang terlibat dalam perbaikan bugsserta kelemahan-kelemahan software tersebut
  • Menjamin masa depan software

Kekurangannya :

  • kenyamanan dan keterbiasaan user dalam menggunakan program open source (system operasi Linux), serta dalam bidang grafis yang masih belum sempurna.

Sumber : https://sam-worthington.net/

Bakti Sosial Siswa SMA Plus PGRI Cibinong Rutin Tiap Bulan, Berharap Dicontoh Siswa SMA Lain

  • October 29, 2019

Bakti Sosial Siswa SMA Plus PGRI Cibinong Rutin Tiap Bulan, Berharap Dicontoh Siswa SMA Lain

Bakti Sosial Siswa SMA Plus PGRI Cibinong Rutin Tiap Bulan, Berharap Dicontoh Siswa SMA Lain

Demi meningkatkan rasa sosial dan kepedulian siswa, SMA Plus PGRI Cibinong rutin mengadakan bakti sosial,

belum lama ini. Bakti sosial ini adalah program bulanan yang dilakukan para siswa sekolah di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini sudah menjadi kegiatan rutin setiap bulannya yang dilaksanakan di panti asuhan

di lingkungan kabupaten bogor. Pada bulan ini, bakti sosial SMA Plus PGRI Cibinong dilaksanakan di Panti Asuhan Wisma Tuna Ganda. SMA Plus PGRI Cibinong ingin memotivasi generasi muda untuk saling menolong sesama.

Salah satu siswa SMA Plus PGRI Cibinong Fikri merasa terharu melihat kebahagiaan anak panti asuhan

. “Saya merasa terharu, betapa senangnya mereka melihat kami datang dan semoga siswa lain yang berada di Kabupaten Bogor bisa termotivasi dengan kegiatan ini,” ungkapnya haru.

Sementara itu, anak panti merasa sangat bahagia dan haru pikuk suasana di Panti Asuhan Wisma Tuna Ganda. Fikri berharap kegiatan ini tetep berjalan dan semoga anak muda bisa termotivasi dengan kegiatan ini.

 

Baca Juga :